Jumat, 19 November 2010
Kamis, 18 November 2010
Cuaca dan Infrastruktur Jadi Penghambat Industri Hilir Sawit
Metrotvnews
Metrotvnews.com, Jakarta: Permintaan dunia akan minyak nabati yang rata-rata mencapai lima juta ton per tahun diharapkan akan terus meningkat. Pada tahun 2011 mendatang industri minyak nabati dinilai masih berpeluang dan memberikan kontribusi besar bagi ekonomi nasional. Minyak nabati bisa dipenuhi dari kelapa sawit.
Dalam kurun waktu dua tahun terakhir produksi kelapa sawit Indonesia berada di peringkat pertama, mengungguli Malaysia. Hampir 49 persen produksi minyak sawit untuk dunia berasal dari negara Indonesia.
Sebagai salah satu industri yang menjanjikan dengan luasan penetrasi pasar yang terus berkembang industri minyak sawit juga dapat mendorong investasi, sebagia penyumbang devisa maupun penyerapan tenaga kerja. Ini dapat terwujud dengan baik jika industri hilir minyak sawit dikelola secara berkelanjutan.
Produsen minyak kelapa sawit, Daud Dharsono, mengatakan belum stabilnya kurs dolar saat ini tidak mempengaruhi harga komoditi minyak sawit di pasar internasional. Selain diolah menjadi minyak sawit mentah (CPO) kelapa sawit juga dapat diolah menjadi produk lain, seperti biodiesel dan etanol. Bahan bakar nabati turunan jenis ini dinilai mampu menyaingi pasar bahan bakar solar. Apalagi jika harga solar terus naik.
Sementara itu, peneliti senior Institut Pertanian Bogor Any Suryani menilai, hingga kini selain faktor cuaca, buruknya infrastruktur, seperti pelabuhan, juga tetap menjadi kendala utama pengembangan industri hilir minyak sawit.
Pengembangan produksi CPO dan turunannya harus tetap ditingkatkan agar potensi pasar kelapa sawit asal Indonesia di pasar internasional semakin terbuka luas. Diharapkan dengan diferensiasi produk ini semakin memantapkan posisi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia dalam beberapa tahun ke depan.(DOR)
Selasa, 16 November 2010
Bursa Australia Menguat, New Zealand Turun
Bloomberg
SYDNEY: Indeks S&P/ASX 200 Australia merangkak naik 0,3% menjadi 4.703,90 pada pukul 10.433 a.m. di Sydney. Sebaliknya, Indeks NZX 50 Selandia Baru terpeleset 0,1% menjadi 3.324,25 di Wellington.
Dan berikut ini saham paling aktif di bursa Australia dan Selandia Baru hari ini, yaitu di antaranya:
Australia:
Australia & New Zealand Banking Group Ltd. (ANZ AU) menanjak 1,8% menjadi A$23,50. Selain itu, Lone Star Funds berencana untuk merilis 51% sahamnya di Korea Exchange Bank kepada Hana Fianncial Group Inc., lapor pihak Wall Street Journal. Penjualan yang senilai US$3,8 miliar tersebut, akan mengakhiri penawaran dari pihak ANZ atas saham tersebut.
Australia & New Zealand Banking Group Ltd. (ANZ AU) menanjak 1,8% menjadi A$23,50. Selain itu, Lone Star Funds berencana untuk merilis 51% sahamnya di Korea Exchange Bank kepada Hana Fianncial Group Inc., lapor pihak Wall Street Journal. Penjualan yang senilai US$3,8 miliar tersebut, akan mengakhiri penawaran dari pihak ANZ atas saham tersebut.
BHP Billiton Ltd. (BHP AU), perusahaan tambang terbesar di dunia, menguat 0,9 menjadi A$44,53. Sementara itu, kontrak berjangka tembaga untuk pengiriman Maret menguat 0,7% yang ditutup di level US$3,9245 per pound pada pukul 1.39 p.m. di New York kemarin.
Commonwealth Bank of Australia (CBA AU) turut naik 0,5% menjadi A$49,10 setelah rating saham bank tersebut menjadi ‘buy’ dari posisi sebelumnya ‘hold’ berdasarkan para analis Goldman Sachs & Partners Australia Pty.
CuDeco Ltd. (CDU AU), berencana untuk membangun proyek Rocklands di Australia, yang melonjak 6,6% menjadi A$3,86 yang meneruskan kenaikannya dalam empat hari terakhir menjadi 27%.
James Hardie Industries SE (JHX AU) kehilangan 1,1% menjadi A$5,59 yang diturunkan ratingnya dari ‘neutral’ menjadi ‘underperform’ di Credit Suisse Group AG.(t01)
Langganan:
Postingan (Atom)